Deskripsi
Biografi: Kakak
Ya, sejak kecil aku memang lebih dekat
dengan kakakku dibanding dengan ibuku dan abangku apalagi ayahku. Yang mau
mengajakku bermain hanya kakakku. Terkadang ia juga usil mengerjaiku hingga
membuatku menangis. Mulai masuk TK, waktu bermain bersama kakakku mulai
singkat. Karena dari kecil, kakakku tegas, ada waktunya belajar dan ada waktunya
bermain. Yang mengajariku pun juga kakakku. Bila ada PR, kakakku yang menjadi
guru privat ku dirumah.
Yang ku ingat sampai saat ini, setiap malam
sehabis isya aku selalu bermain dengan kakak ku dikamar. Kadang joget-joget tak
jelas, nyanyi, dengar musik kakakku dan lompat-lompat diatas kasur orang tua
kami. Biasanya setelah akrab seperti itu berujung pada perkelahian. Sering juga
kami berkelahi karena hal sepele, terkadang juga gara-gara aku yang bandel,
tidak nurut dengan beliau.
Namun semua itu kurindukan setelah mulai
masuk SD, tepatnya ketika kakak dan abangku mulai masuk kuliah dan mereka
diterima di salah satu universitas di Kalimantan Timur. Tunggu, saudaramu udah
kuliah tapi kamu baru masuk SD? Ya, aku dengan kakakku beda 10 tahun dan dengan
abangku sekitar 12 atau 13 tahun. Sebenarnya aku punya 1 saudara diatasku, tapi
ibuku keguguran. Yakk kembali lagi ke kakakku. Saat itu aku belum merasakan
sedih, seiring waktu dan aku semakin tumbuh besar. Hal-hal yang dulu aku benci
kini aku rindukan. Rasa sepi mulai datang. Anak bungsu yang tinggal sendiri
berasa anak tunggal. Tak jarang juga teman-temanku yang mengira aku anak
tunggal karena tak pernah melihat kakak dan abangku dirumah.
Saat kelas 2 SD, untuk kedua kalinya aku
pulang ke Kalimantan Timur bersama ibuku untuk menjenguk kakak dan abangku.
Saat itu juga aku baru bertemu lagi dengan nya setelah sekian lama. Selama
disana aku berusaha dekat lagi dengan kakakku. Karena waktu berpisah yang cukup
lama, awalnya aku merasa enggan dan sungkan, bahkan untuk bicara dengannya pun
aku malu, merasa seperti baru mengenal pertama kali. Tapi lama-kelamaan akrab
kembali walau sudah diakhir waktu kembali lagi ke Pontianak.
Si anak bungsu yang paling cengeng
dirumah dan kadang suka dramatis, menangis ketika dipeluk dan pamit pulang.
Bahkan sudah sampai dirumah pun aku masih menangis. Selalu berpikir kapan
semuanya berkumpul kembali.
Lalu setelah dua tahun kemudian,
tepatnya kelas 4 SD, kakak dan abangku kembali pulang. Saat itu tengah liburan
bulan puasa. Akhirnya kami berkumpul kembali walau sebulan lebih saja. Mereka
bisa pulang pun aku bersyukur. Selama bulan puasa aku selalu dibuatkan cemilan
oleh kakak. Kadang-kadang juga sama-sama berkreasi membuat cemilan yang tidak
jelas, tapi enak.
Aku ingat sekali, saat bulan puasa, saat
itu kakakku sedang tidak berpuasa dan ia makan pop mie didepan ku. Saat itu aku
merengek untuk minta, tapi aku baru sadar aku sedang puasa. Alhasil aku meminta
ibuku saat buka puasa nanti aku ingin makan pop mie juga seperti yang kakak
makan. Sementara selama menunggu berbuka, kakak ku terus mengolokku dan
menggodaku. Ya menjengkelkan memang, tapi itu yang kurindukan.
Selain itu juga biasanya kami mencari
lagu-lagu islami yang terbaru untuk diputar saat lebaran. Ya salah satunya saat
itu sedang trending lagu dari Maher Zain. Tak jarang kami juga duet nyanyi (3
bersaudara bisa nyanyi karena pengaruh dari orang tua yang suka nyanyi).
Dan setelah beberapa hari lebaran, kami
mulai menikmati liburan dengan jalan-jalan ke mall, bahkan untuk pertama kalinya
kami buat foto keluarga. Dari dulu aku selalu mengajak keluarga untuk berfoto
seperti keluarga yang lain dan semua itu baru kesampaian saat kelas 4 SD.
Beberapa hari setelahnya kakak dan
abangku pamit kembali ke Kal-Tim. Sejak mengantar mereka ke bandara hingga
seminggu sudah mereka di Kal-Tim, aku masih saja menangis. Ya, lagi-lagi karena
sepi dan tidak lama juga menghabiskan waktu bersama. Aku yang terbiasa kumpul
dengan saudara harus merasakan sepi ketika mereka kembali masuk kuliah terutama
dengan kakak.
Bahkan saat MTs aku kembali lagi ke
Kal-Tim, aku sangat manja dengan kakakku. Saat itu ia tengah menginap dirumah
kakak sepupuku, sedangkan aku dan ibuku menginap dengan tanteku. Yang biasanya
anak-anak lebih melekat dengan ibu, aku malah sebaliknya. Aku memilih untuk
menginap dengan kakakku. Ya walaupun sepertinya berat untuknya kalau aku nginap
bersamanya karena gaya tidurku yang tidak seperti orang normal alias rusuh atau
bahasa daerah nya “lasak”. Tapi ia juga senang memanjakanku. Kadang beli
cemilan yang banyak, buat cemilan bersama, masak bersama. Dan selalu dididik
untuk mandiri, terlebih bila menginap dirumah orang, harus bersikpa seperti ini
itu, bantu ini itu.
Aku juga menginap dirumah abangku yang
saat itu sudah berkeluarga dan aku punya 2 keponakan (tapi yang satu belum
lahir). Aku juga bermain dengan keponakan ku yang saat itu baru berusia 2
tahun. Aku juga manja dengan abangku terutama kakak iparku. Ia yang pintar
memasak apalagi buat kue, memanjakanku dengan membuat cemilan apapun untukku.
Ya selama disana tubuhku semakin makmur juga.
Tapi ketika kembali lagi ke Pontianak,
yang telah lalu tinggal kenangan. Terakhir kakak dan abangku pulang ke
Pontianak saat aku kelas 1 SMA, tepatnya saat itu kakak ku akan menikah dan
digelar acara di Pontianak. Saat itu suasana rumahku sangat ramai, bahkan ada
saudara ibuku yang juga datang dan pastinya keluarga suami kakak ku (dapat
jodohnya juga orang Kal-Tim).
Malam itu aku menghabiskan waktu dengan
kakakku dan tidur dengannya terakhir kali. Menghabiskan waktu bersama sebelum
masa lajangnya berakhir. Ya ga mungkin jugakan kalau kakakku sudah menikah dan
aku nyelip tidur ditengah-tengah. Tapi pada pagi harinya aku kembali mendengar
omelannya karena gaya tidurku. Ya sudahlah, jadikan kenangan saja, karena
setelah itu tidak tahu kapan lagi kita tidur bersama.
