Jumat, 18 Desember 2020

Ma Sister

Nama: Tiara Cahyani

Deskripsi Biografi: Kakak 

 


            Assalamu’alaikum. Kali ini aku ingin mengisahkan tentang saudaraku yang terkenal “Garang” alias pemarahan. Bagiku ia adalah ibu keduaku. Mengapa? Sejak kecil aku memang lebih dekat dengan kakak ku dibanding ibuku. Namun saat ini ia sudah berkeluarga dan tinggal di Kalimantan Timur. Walaupun sudah bertahun-tahun tidak bertemu, tapi dari fotonya saat ini, postur tubuhnya masih sama saja. Perempuan yang lahir pada tanggal 27 April 1991 di Kalimantan Timur itu memiliki postur tubuh yang tinggi seperti ayahku, berkulit putih bersih dengan hidungnya yang mancung, bulu mata yang lentik dan alisnya yang tebal. Ia merupakan anak tengah dikeluargaku dan anak unggulan karena pintar dan prestasinya.

Ya, sejak kecil aku memang lebih dekat dengan kakakku dibanding dengan ibuku dan abangku apalagi ayahku. Yang mau mengajakku bermain hanya kakakku. Terkadang ia juga usil mengerjaiku hingga membuatku menangis. Mulai masuk TK, waktu bermain bersama kakakku mulai singkat. Karena dari kecil, kakakku tegas, ada waktunya belajar dan ada waktunya bermain. Yang mengajariku pun juga kakakku. Bila ada PR, kakakku yang menjadi guru privat ku dirumah.

Yang ku ingat sampai saat ini, setiap malam sehabis isya aku selalu bermain dengan kakak ku dikamar. Kadang joget-joget tak jelas, nyanyi, dengar musik kakakku dan lompat-lompat diatas kasur orang tua kami. Biasanya setelah akrab seperti itu berujung pada perkelahian. Sering juga kami berkelahi karena hal sepele, terkadang juga gara-gara aku yang bandel, tidak nurut dengan beliau.

Namun semua itu kurindukan setelah mulai masuk SD, tepatnya ketika kakak dan abangku mulai masuk kuliah dan mereka diterima di salah satu universitas di Kalimantan Timur. Tunggu, saudaramu udah kuliah tapi kamu baru masuk SD? Ya, aku dengan kakakku beda 10 tahun dan dengan abangku sekitar 12 atau 13 tahun. Sebenarnya aku punya 1 saudara diatasku, tapi ibuku keguguran. Yakk kembali lagi ke kakakku. Saat itu aku belum merasakan sedih, seiring waktu dan aku semakin tumbuh besar. Hal-hal yang dulu aku benci kini aku rindukan. Rasa sepi mulai datang. Anak bungsu yang tinggal sendiri berasa anak tunggal. Tak jarang juga teman-temanku yang mengira aku anak tunggal karena tak pernah melihat kakak dan abangku dirumah.

Saat kelas 2 SD, untuk kedua kalinya aku pulang ke Kalimantan Timur bersama ibuku untuk menjenguk kakak dan abangku. Saat itu juga aku baru bertemu lagi dengan nya setelah sekian lama. Selama disana aku berusaha dekat lagi dengan kakakku. Karena waktu berpisah yang cukup lama, awalnya aku merasa enggan dan sungkan, bahkan untuk bicara dengannya pun aku malu, merasa seperti baru mengenal pertama kali. Tapi lama-kelamaan akrab kembali walau sudah diakhir waktu kembali lagi ke Pontianak. 

Si anak bungsu yang paling cengeng dirumah dan kadang suka dramatis, menangis ketika dipeluk dan pamit pulang. Bahkan sudah sampai dirumah pun aku masih menangis. Selalu berpikir kapan semuanya berkumpul kembali.

Lalu setelah dua tahun kemudian, tepatnya kelas 4 SD, kakak dan abangku kembali pulang. Saat itu tengah liburan bulan puasa. Akhirnya kami berkumpul kembali walau sebulan lebih saja. Mereka bisa pulang pun aku bersyukur. Selama bulan puasa aku selalu dibuatkan cemilan oleh kakak. Kadang-kadang juga sama-sama berkreasi membuat cemilan yang tidak jelas, tapi enak.

Aku ingat sekali, saat bulan puasa, saat itu kakakku sedang tidak berpuasa dan ia makan pop mie didepan ku. Saat itu aku merengek untuk minta, tapi aku baru sadar aku sedang puasa. Alhasil aku meminta ibuku saat buka puasa nanti aku ingin makan pop mie juga seperti yang kakak makan. Sementara selama menunggu berbuka, kakak ku terus mengolokku dan menggodaku. Ya menjengkelkan memang, tapi itu yang kurindukan.

Selain itu juga biasanya kami mencari lagu-lagu islami yang terbaru untuk diputar saat lebaran. Ya salah satunya saat itu sedang trending lagu dari Maher Zain. Tak jarang kami juga duet nyanyi (3 bersaudara bisa nyanyi karena pengaruh dari orang tua yang suka nyanyi).

Dan setelah beberapa hari lebaran, kami mulai menikmati liburan dengan jalan-jalan ke mall, bahkan untuk pertama kalinya kami buat foto keluarga. Dari dulu aku selalu mengajak keluarga untuk berfoto seperti keluarga yang lain dan semua itu baru kesampaian saat kelas 4 SD.

Beberapa hari setelahnya kakak dan abangku pamit kembali ke Kal-Tim. Sejak mengantar mereka ke bandara hingga seminggu sudah mereka di Kal-Tim, aku masih saja menangis. Ya, lagi-lagi karena sepi dan tidak lama juga menghabiskan waktu bersama. Aku yang terbiasa kumpul dengan saudara harus merasakan sepi ketika mereka kembali masuk kuliah terutama dengan kakak.

Bahkan saat MTs aku kembali lagi ke Kal-Tim, aku sangat manja dengan kakakku. Saat itu ia tengah menginap dirumah kakak sepupuku, sedangkan aku dan ibuku menginap dengan tanteku. Yang biasanya anak-anak lebih melekat dengan ibu, aku malah sebaliknya. Aku memilih untuk menginap dengan kakakku. Ya walaupun sepertinya berat untuknya kalau aku nginap bersamanya karena gaya tidurku yang tidak seperti orang normal alias rusuh atau bahasa daerah nya “lasak”. Tapi ia juga senang memanjakanku. Kadang beli cemilan yang banyak, buat cemilan bersama, masak bersama. Dan selalu dididik untuk mandiri, terlebih bila menginap dirumah orang, harus bersikpa seperti ini itu, bantu ini itu.

Aku juga menginap dirumah abangku yang saat itu sudah berkeluarga dan aku punya 2 keponakan (tapi yang satu belum lahir). Aku juga bermain dengan keponakan ku yang saat itu baru berusia 2 tahun. Aku juga manja dengan abangku terutama kakak iparku. Ia yang pintar memasak apalagi buat kue, memanjakanku dengan membuat cemilan apapun untukku. Ya selama disana tubuhku semakin makmur juga.

Tapi ketika kembali lagi ke Pontianak, yang telah lalu tinggal kenangan. Terakhir kakak dan abangku pulang ke Pontianak saat aku kelas 1 SMA, tepatnya saat itu kakak ku akan menikah dan digelar acara di Pontianak. Saat itu suasana rumahku sangat ramai, bahkan ada saudara ibuku yang juga datang dan pastinya keluarga suami kakak ku (dapat jodohnya juga orang Kal-Tim).

Malam itu aku menghabiskan waktu dengan kakakku dan tidur dengannya terakhir kali. Menghabiskan waktu bersama sebelum masa lajangnya berakhir. Ya ga mungkin jugakan kalau kakakku sudah menikah dan aku nyelip tidur ditengah-tengah. Tapi pada pagi harinya aku kembali mendengar omelannya karena gaya tidurku. Ya sudahlah, jadikan kenangan saja, karena setelah itu tidak tahu kapan lagi kita tidur bersama.

            
           Pada hari acara nikah kakak ku, aku mengaji untuk akad nikahnya dan pada sesi sungkeman, aku juga dipeluk oleh kakakku. Ya, masih belum puas untukku menghabiskan waktu bersama. Tapi ya bagaimana lagi, aku juga sudah besar dan harus hidup mandiri, tidak mungkin terus-terusan bertingkah seperti anak kecil dan juga manja. Hingga saat ini ia juga belum bisa pulang. Sebenarnya tahun ini mereka (kakak dan abang) akan pulang tepatnya bulan puasa tadi. Tapi karena pandemi ini, maka semuanya harus ditunda terlebih lagi sekarang mereka punya anak kecil, ya keponakan laki-laki ku yang baru berusia 2 tahun. Semoga saja tahun depan pandemi ini berakhir dan kami semua bisa berkumpul lagi dengan suasana yang lebih ramai. Aamiin… Sekian cerita tentang kakakku. Terima kasih. Assalamu’alaikum. 

Jumat, 06 November 2020

Aku dan Tempat Tinggalku

🏡 Ini rumah dan lingkungan tempat tinggalku. 





Assalamu'alaikum 👋 
Hai teman-teman. Kemarin aku sudah memperkenalkan diri, kali ini aku akan perkenalkan lingkungan tempat tinggalku. Ya, ini rumah orang tuaku saat ini. Jauh sebelum aku lahir, beliau sudah punya tempat tinggal tapi berpindah-pindah. Semasa orang tua dan kakak abangku datang menginjakkan kaki diPontianak, mereka tinggal disebuah rumah disamping rumah nenek didaerah perum 2. Dan rumah itu juga tempatku dilahirkan. Setelah beberapa tahun, akhirnya kami pindah ke rumah dinas ayahku, di kelurahan Sui.Bangkong. 

Sejak tinggal didaerah itu, aku jadi lebih sering jajan cemilah, karena rumahnya dekat warung hehe.. Yang ku ingat, diriku tinggal sewaktu TPA hingga TK. Setelah itu kami pindah ke tempat tinggal yang ada difoto hingga sekarang. Seingat ku, kami pindah saat aku mulai masuk SD. 

Tetapi, saat kami pindah dulu, lingkungan sekitar tidak seperti yang ada difoto itu. Jauh dari itu, dulunya tempat itu hanya hutan. Ya, hutan, hanya dipenuhi dengan pohon kelapa, pohon durian, pohon rambutan dan lain sebagainya. Bahkan saat itu kami tidak punya akses jalan tembus ke jalan raya. Jadi pda saat itu kami hanya mengandalkan setapak jalan kecil di tengah lahan luas yang berisi pohon-pohon tadi dan jalan itu terhubung ke gang sebelahnya, dan gang sebelah itulah baru punya akses ke jalan raya. 

Sewaktu aku kecil, tiap kali musim hujan datang, aku selalu memandang ke pohon kelapa tepat berada didepan rumah. Pohon itu sangat tinggi sekali, bahkan aku berpikir ketika angin berhembus kencang, bagaimana jika pohon ini roboh dan menimpa rumah kecil kami (saat itu rumah berukuran kecil dan tidak seluas sekarang). 

Namun lama-kelamaan pohon-pohon yang ada disekitar rumah menjadi tempat ku bermain. Oh iya, saat aku pindah sudah ada dua rumah yang menetap didaerah itu. Yang pertama rumah paling depan gang dan yang kedua itu sebelah rumahku, rumah tanteku lebih tepatnya. 
 
Setelah beberapa tahun, dibangunlah 3 rumah disamping kanan kami dan rumah itu memiliki tipe yang sama atau seperti rumah komplek pada umumnya. Dan tetangga baru itu memiliki anak lelaki seumuranku dan anak perempuan yang beda setahun dariku. 

Tepat sewaktu diriku kelas 7, mulailah lahan luas yang ada didepan rumah beserta pohon-pohonnya mulai ditebang dan dikosongkan untuk membangun rumah. Dan semakin lama, mulai banyak rumah-rumah yang dibangun terutama akses gang ke jalan raya sudah ada. 

Tidak pernah terlintas akan jadi seramai ini sekarang, kalau dipikir-pikir yang dulunya hanya sebuah lahan luas dipenuhi pohon semakin ketahun sudah banyak dibangun rumah. 

Kini rumahku menjadi tempat ternyaman terutama kamar hehe... Selain karena rumah, warga sekitar pun menjaga kekompakan, bermusyawarah gotong royong dan terutama baik hati serta ramah dan bergaul dengan semua orang. 

Semoga lingkungan seperti ini tetap selamanya dan tinggal disini selamanya 
 

Selasa, 03 November 2020

Perkenalan👋



Assalamu'alaikum,Hai kawan-kawan👋 
Perkenalkan,namaku Tiara Cahyani. Anak perempuan bungsu dari 3 bersaudara yang lahir sehari setelah natal tahun 2001 di Pontianak (26/12/2001). 
Hobiku?Nari,Nyanyi. Sekolah? Dari dulu sekolah nya Madrasah (MINTEL,MTSN 1,MAN 2). Sukanya apa?kucing. Yang mau jadi temenku harus ekstra sabar karena aku anaknya emosian,garang (orang bilang gitu). Cita-cita? Suka berubah,tapi sekarang maunya jadi guru (dulu pengen jadi dokterlah,desainer baju lah,model lah dll.) Kalo kamu tanya aku tentang sesuatu yang jujur, jangan sakit hati ya, karena anaknya terlalu jujur:'' 

Saat ini,aku tinggal bersama orang tuaku tanpa kakak dan abang. Mereka sudah punya keluarga masing-masing dan tinggal di Kalimantan Timur (banyak yang mengira diriku anak tunggal). Sepi?iya,jadi teman hidup sekarang. "Kok jauh sampai ke Kal-Tim?" Ya, ibuku asli kutai,Kal-Tim, abang dan kakak pun lahir dan kuliah disana wajar saja sekarang tinggal disana.

Sedari SD memang sudah disekolahkan di Madrasah Negeri dengan tujuan tanamkan nilai agama,sejak dari itu saya teruskan hingga kuliah sekarang. Karena saya lebih tertarik dan berpotensi di ilmu agama dibanding seperti jurusan ips apalagi ipa. Dan sejak itulah saya memutuskan ingin menjadi guru agama. 

Awalnya ingin masuk di UIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Tapi sayang, orang tua tidak merestui dan saat pengumuman itu aku tidak lulus. Akhirnya masuklah ke IAIN Pontianak dan semoga aku bisa mewujudkan mendapat cumlaude disini dan ip minimal 3,5 Aamiin.. 

Sekian,perkenalan kali ini. Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. 

Ma Sister

Nama: Tiara Cahyani Deskripsi Biografi: Kakak                   Assalamu’alaikum. Kali ini aku ingin mengisahkan tentang saudaraku yan...